Kebiasaan sederhana seperti Buang Sampah ke Sungai sering kali dianggap sepele. Padahal, dampaknya bisa sangat besar bagi lingkungan, kesehatan, hingga keberlanjutan pariwisata. Kini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi menegaskan bahwa tindakan tersebut hukumnya haram.
Fatwa ini menjadi pengingat penting, terutama bagi traveler dan pelaku industri wisata. Menjaga kebersihan bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Fatwa Resmi MUI tentang Pengelolaan Sampah
Dasar Hukum dan Penetapan Fatwa
MUI mengeluarkan Fatwa Nomor 4/MUNAS XI/MUI/2025 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah di Sungai, Danau, dan Laut untuk Mewujudkan Kemaslahatan. Fatwa tersebut ditetapkan dalam Musyawarah Nasional XI yang berlangsung pada 20–23 November 2025 di Jakarta.
Dalam ketentuannya disebutkan bahwa membuang sampah ke badan air, termasuk sungai, danau, dan laut, hukumnya haram. Alasannya jelas, karena perbuatan itu mencemari sumber air dan membahayakan manusia serta makhluk hidup lainnya.
MUI menilai persoalan sampah sudah menjadi masalah nasional yang berdampak pada kesehatan, sosial-ekonomi, dan kerusakan ekosistem perairan.
Landasan Al-Qur’an dan Kaidah Fikih
Penetapan hukum ini tidak muncul begitu saja. Ada landasan kuat dari ayat Al-Qur’an tentang larangan berbuat kerusakan di muka bumi serta hadis yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan tidak membahayakan orang lain.
Selain itu, MUI merujuk pada kaidah fikih seperti:
- Al-dhararu yuzāl (kemudaratan harus dihilangkan)
- Dar’u al-mafāsid muqaddam ‘alā jalbi al-maṣāliḥ (mencegah kerusakan didahulukan daripada menarik kemaslahatan)
Dengan demikian, tindakan Buang Sampah ke Sungai tidak hanya melanggar norma lingkungan, tetapi juga bertentangan dengan prinsip syariat.
Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan Pariwisata
Pencemaran dan Kerusakan Ekosistem
Sampah di perairan jauh lebih berbahaya dibanding di darat. Limbah yang masuk ke sungai akan mengalir hingga ke laut, mencemari ekosistem, merusak terumbu karang, hingga mengancam biota laut.
Plastik yang terurai menjadi mikroplastik juga dapat masuk ke rantai makanan manusia. Dampaknya bukan hanya jangka pendek, tetapi bisa berlangsung bertahun-tahun.
Citra Destinasi Wisata Terancam
Masalah sampah kini menjadi sorotan di sejumlah destinasi wisata populer. Bali misalnya, beberapa kali disorot karena tumpukan sampah plastik di pantai.
Lonjakan wisatawan yang tidak diimbangi sistem pengelolaan limbah memadai membuat persoalan semakin kompleks. Jika kebiasaan Buang Sampah ke Sungai dan laut terus terjadi, bukan tidak mungkin citra destinasi Indonesia akan menurun di mata dunia.
Hal ini tentu merugikan sektor pariwisata yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
Peran Masyarakat, Pelaku Usaha, dan Pemerintah
Tanggung Jawab Bersama
Fatwa ini juga memuat pedoman bagi berbagai pihak. Masyarakat diminta untuk:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai
- Memilah dan mengolah sampah dari rumah
- Aktif dalam kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan
Pelaku usaha dilarang membuang limbah ke badan air dan didorong menggunakan bahan ramah lingkungan serta sistem daur ulang.
Edukasi dan Penegakan Hukum
Lembaga pendidikan serta tempat ibadah diharapkan menjadi teladan dalam pengelolaan sampah. Edukasi tentang fikih lingkungan bisa diintegrasikan dalam kurikulum maupun khutbah.
Sementara itu, pemerintah pusat dan daerah didorong memperkuat regulasi, infrastruktur, serta pengawasan. Penegakan hukum terhadap pelanggaran menjadi langkah penting agar aturan tidak hanya sebatas wacana.
Traveler Harus Lebih Peduli
Bagi traveler, menjaga kebersihan destinasi wisata adalah bentuk tanggung jawab moral. Liburan yang menyenangkan tidak boleh meninggalkan jejak kerusakan.
Membawa botol minum sendiri, tidak membuang sampah sembarangan, serta mendukung tempat wisata ramah lingkungan adalah langkah kecil yang berdampak besar.
Fatwa ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari nilai spiritual.
Larangan Buang Sampah ke Sungai yang ditegaskan MUI menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran kolektif. Lingkungan yang bersih bukan hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga menjaga keberlanjutan hidup dan pariwisata.
Kini saatnya setiap individu mengambil peran. Mulailah dari diri sendiri dan ajak orang sekitar untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Karena menjaga alam hari ini berarti menjaga masa depan generasi berikutnya.
Baca Juga Artikel:
5 Bakso Kelas Restoran Terbaik di Jakarta