Industri perhotelan tengah menghadapi tantangan serius, terutama bagi Hotel di NTB yang sepanjang 2025 mengalami penurunan tingkat hunian cukup signifikan. Penurunan okupansi hingga 20 persen menjadi sinyal bahwa sektor ini tidak sedang baik-baik saja.
Bagi daerah yang mengandalkan pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi, kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran. Pelaku usaha hotel pun harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah tekanan pasar yang tidak menentu.
Okupansi Turun, Hotel Bergantung pada MICE Paling Terdampak
Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Nusa Tenggara Barat mengungkapkan bahwa tren penurunan okupansi terjadi hampir sepanjang tahun. Dampaknya paling terasa pada hotel yang bergantung pada kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition).
Ketergantungan pada Agenda Pertemuan
Hotel yang selama ini mengandalkan kegiatan rapat, seminar, dan pameran mengalami tekanan lebih besar. Ketika agenda MICE menurun, tingkat hunian kamar otomatis ikut tergerus.
Dalam kondisi tanpa kegiatan besar, tingkat okupansi disebut hanya berkisar di angka 30 persen. Angka tersebut dinilai jauh dari kondisi ideal untuk menjaga stabilitas operasional dan keuntungan.
Bagi sebagian pengusaha, situasi ini berarti pengurangan pendapatan secara signifikan, bahkan berpotensi memengaruhi keberlangsungan usaha.
Efisiensi Anggaran dan Minimnya Event Jadi Faktor Utama
Salah satu penyebab utama melemahnya kinerja Hotel di NTB adalah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Kebijakan tersebut berdampak pada berkurangnya kegiatan resmi yang biasanya digelar di hotel.
Atraksi Budaya Dinilai Masih Terbatas
Selain faktor anggaran, minimnya atraksi budaya juga menjadi sorotan. Wisatawan yang datang umumnya hanya mengunjungi objek wisata utama tanpa banyak pilihan hiburan tambahan.
Berbeda dengan daerah seperti Bali yang rutin menggelar pertunjukan seni dan pameran budaya, Hotel di NTB dinilai masih kurang dalam hal pagelaran berskala rutin. Kondisi ini membuat wisatawan cenderung menginap singkat, hanya satu hingga dua malam.
Akibatnya, lama tinggal wisatawan tidak cukup panjang untuk mendongkrak pendapatan hotel secara signifikan.
Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Pasar
Meski menghadapi kondisi sulit, pelaku usaha perhotelan tidak tinggal diam. Mereka mulai membidik pasar alternatif di luar MICE tradisional.
Menyasar Komunitas dan Asosiasi Profesi
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyasar asosiasi profesi, seperti organisasi dokter atau komunitas spesialis. Kegiatan simposium, temu ilmiah, dan seminar skala nasional dinilai memiliki potensi besar karena mampu menghadirkan ribuan peserta dari berbagai daerah.
Dengan strategi ini, diharapkan ada tambahan pergerakan tamu yang bisa membantu meningkatkan okupansi kamar.
Namun, upaya tersebut tetap membutuhkan dukungan promosi dan sinergi dengan pemerintah daerah agar hasilnya maksimal.
Data Rata-Rata Lama Menginap yang Menurun
Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat bahwa rata-rata lama menginap tamu hotel pada Desember 2025 turun menjadi 1,85 hari. Penurunan sebesar 0,05 hari dibandingkan bulan sebelumnya mungkin terlihat kecil, tetapi cukup berpengaruh dalam akumulasi tahunan.
Jika dirinci berdasarkan klasifikasi hotel berbintang:
- Hotel bintang lima mencatat rata-rata 2,65 hari
- Hotel bintang satu hanya sekitar 1,12 hari
Data ini menunjukkan bahwa segmen hotel kelas atas masih memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan hotel kelas menengah ke bawah.
Pentingnya Penguatan Wisata Budaya
Banyak pihak menilai bahwa solusi jangka panjang tidak hanya terletak pada promosi hotel, tetapi juga pengembangan atraksi wisata. Tanpa kegiatan budaya dan event rutin, wisatawan cenderung tidak memiliki alasan untuk memperpanjang masa tinggal.
Penguatan festival budaya, pertunjukan seni, hingga penambahan objek wisata baru dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan daya tarik daerah.
Jika wisatawan tinggal lebih lama, maka sektor perhotelan, restoran, dan usaha pendukung lainnya akan ikut merasakan dampak positifnya.
Penurunan okupansi hingga 20 persen menjadi tantangan besar bagi Hotel di NTB sepanjang 2025. Ketergantungan pada MICE, kebijakan efisiensi anggaran, serta minimnya atraksi budaya menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja perhotelan.
Upaya mencari pasar alternatif dan mendorong penguatan wisata budaya menjadi langkah penting untuk memulihkan kondisi. Dengan kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah daerah, sektor pariwisata NTB diharapkan dapat kembali bangkit dan menarik lebih banyak wisatawan untuk tinggal lebih lama.
Baca Juga Artikel:
Lamak Rasa: Nasi Lemak Bakar Rp 15 Ribuan