Trevi Fountain selama berabad-abad dikenal sebagai simbol romantisme dan keindahan Kota Roma. Air mancur megah bergaya Baroque ini selalu menjadi magnet wisatawan dari berbagai penjuru dunia, siang dan malam tanpa henti.
Namun mulai bulan depan, pengalaman berkunjung ke Trevi Fountain akan sedikit berbeda. Pemerintah Kota Roma resmi menerapkan kebijakan tiket masuk bagi wisatawan internasional, sementara warga lokal tetap bisa menikmati kawasan ini secara gratis.
Kebijakan Tiket Masuk dan Tujuan Utamanya
Upaya Pelestarian Warisan Budaya
Penerapan tiket masuk bukan semata-mata untuk komersialisasi. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah Italia dalam menjaga kelestarian situs bersejarah.
Lonjakan jumlah wisatawan dinilai telah memberi tekanan besar pada struktur dan area sekitar Trevi Fountain. Dengan pengelolaan yang lebih ketat, pemerintah berharap kerusakan akibat kepadatan pengunjung dapat diminimalkan.
Pengelolaan Arus Wisatawan
Dalam beberapa bulan terakhir, akses ke area air mancur sudah dibatasi maksimal 400 orang dalam satu waktu. Kini, sistem tersebut diperkuat dengan pembagian dua jalur akses:
- Jalur khusus warga lokal dengan akses gratis
- Jalur wisatawan dengan sistem tiket berbayar
Pembayaran tiket direncanakan dilakukan secara non-tunai menggunakan kartu kredit, demi efisiensi dan keamanan.
Dampak Ekonomi bagi Kota Roma
Potensi Pendapatan Hingga Jutaan Euro
Pemerintah Kota Roma memperkirakan kebijakan tiket masuk Trevi Fountain dapat menghasilkan pendapatan hingga 20 juta euro per tahun. Dana ini akan dialokasikan untuk:
- Perawatan dan restorasi situs
- Peningkatan fasilitas wisata
- Layanan kebersihan dan keamanan
Langkah ini diharapkan menciptakan siklus positif antara pariwisata dan pelestarian budaya.
Menjawab Tantangan Over-Tourism
Dalam enam bulan pertama tahun 2025 saja, Trevi Fountain dikunjungi lebih dari 5,3 juta orang. Angka ini bahkan melampaui jumlah pengunjung Pantheon dalam satu tahun penuh sebelumnya.
Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan yang lebih terstruktur dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Pro dan Kontra di Tengah Publik
Kritik atas Monetisasi Ruang Publik
Meski didukung pemerintah, kebijakan ini tidak lepas dari kritik. Asosiasi konsumen Codacons menilai bahwa ruang publik seperti alun-alun dan air mancur seharusnya tetap bisa diakses bebas oleh semua orang.
Mereka juga menyoroti penggunaan pajak pariwisata yang kerap dianggap belum sepenuhnya kembali ke peningkatan layanan publik.
Alternatif Pembatasan Tanpa Tiket
Menurut Codacons, sistem kuota pengunjung dinilai lebih adil dibanding tiket masuk. Dengan pembatasan jumlah orang, risiko kerusakan tetap dapat ditekan tanpa menghilangkan akses gratis ke ikon kota.
Tradisi Lempar Koin yang Mendunia
Mitos dan Aturan Unik
Salah satu daya tarik Trevi Fountain adalah tradisi melempar koin. Mitosnya dipercaya sebagai berikut:
- Satu koin: kembali ke Roma
- Dua koin: menemukan cinta
- Tiga koin: pertanda pernikahan
Agar sah secara tradisi, koin harus dilempar menggunakan tangan kanan melalui bahu kiri dengan posisi membelakangi air mancur.
Dampak Sosial dari Koin Harapan
Menariknya, koin yang terkumpul di Trevi Fountain bukan sekadar simbol harapan. Setiap hari, koin tersebut dikumpulkan petugas dan disalurkan ke badan amal Caritas Roma.
Dana ini digunakan untuk mendukung dapur umum dan membantu warga kurang mampu di Roma, menjadikan tradisi ini memiliki nilai sosial yang nyata.
Aturan Ketat yang Tetap Berlaku
Meski melempar koin diperbolehkan, pengunjung dilarang keras masuk ke kolam atau mencoba mengambil koin. Pelanggaran aturan ini dapat berujung denda besar sebagai bentuk perlindungan terhadap situs bersejarah tersebut.
Menikmati Trevi Fountain dengan Cara Baru
Penerapan tiket masuk menandai babak baru dalam pengelolaan Trevi Fountain. Bagi wisatawan, perubahan ini mungkin terasa berbeda, namun diharapkan mampu menjaga keindahan ikon Roma agar tetap lestari untuk generasi mendatang.
Dengan pengaturan yang lebih tertib, pengalaman menikmati Trevi Fountain justru bisa terasa lebih nyaman dan bermakna.