Sekaten Keraton Solo kembali menjadi perhatian setelah terjadi adu mulut antara dua kubu yang tengah berselisih mengenai kepemimpinan Keraton Kasunanan Surakarta. Ketegangan tersebut muncul ketika Gamelan Kyai Sekati dikeluarkan dari lingkungan keraton menuju Masjid Agung Solo untuk rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa itu kemudian beredar di media sosial. Dalam salah satu video yang diunggah akun @seputar_surakarta, terlihat sejumlah pria mengenakan pakaian batik terlibat perdebatan. Situasi tersebut membuat pelaksanaan tradisi budaya yang biasanya berlangsung khidmat menjadi sorotan publik.
Perdebatan Terjadi Saat Gamelan Dikeluarkan
Video lain memperlihatkan Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, hendak menuju Bangsal Pagongan. Namun, langkahnya disebut sempat terhalang dalam situasi yang memanas.
Rumbay memilih tidak banyak memberikan komentar mengenai kejadian tersebut. Ia mengatakan tidak ingin persoalan yang terjadi semakin ramai diperbincangkan.
Menurut Rumbay, persoalan utama berkaitan dengan pengambilan gamelan yang disebut dilakukan tanpa seizin Paku Buwono XIV Purbaya sebagai raja dari kubunya.
Dua Kubu Memiliki Versi Berbeda
Perselisihan tersebut tidak berhenti pada persoalan di lokasi. Masing-masing pihak memberikan penjelasan berbeda mengenai dasar pelaksanaan rangkaian tradisi Sekaten.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan dirinya sempat berusaha melerai kedua pihak yang terlibat perselisihan.
LDA Sebut Gamelan Telah Mendapat Izin
Eddy menjelaskan bahwa rangkaian acara Sekaten telah disiapkan bersama Paku Buwono XIV Mangkubumi yang merupakan raja menurut versi kubu mereka.
Ia juga menyebut Paku Buwono XIV Mangkubumi sebenarnya berencana hadir dalam kegiatan tersebut. Namun, kehadiran itu akhirnya belum terlaksana dan akan mencari waktu yang dianggap tepat.
Perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan keraton inilah yang membuat pelaksanaan sejumlah kegiatan adat menjadi lebih kompleks.
Dua Gamelan Kyai Sekati Dibawa ke Masjid Agung
Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dikeluarkan dari lingkungan keraton.
Kedua perangkat gamelan tersebut dibawa melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil, kemudian melewati Alun-Alun Utara sebelum akhirnya masuk ke Masjid Agung Solo.
Baca Juga Artikel:
Cara Main Slot Olympus Tanpa Cepat Kehabisan Saldo
Gamelan Dipindahkan dari Lokasi Sebelumnya
Ketua Lembaga Dewan Adat, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, menjelaskan bahwa kedua gamelan sebelumnya telah dipindahkan ke Sasana Handrawina.
Pemindahan dilakukan karena bangunan yang sebelumnya menjadi tempat penyimpanan gamelan disebut mengalami kondisi yang kurang baik dan berkaitan dengan rencana revitalisasi kawasan.
Menurut Gusti Moeng, kedua perangkat gamelan tersebut kemudian digunakan dalam rangkaian Sekaten untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tradisi Sekaten Memiliki Sejarah Panjang
Sekaten merupakan tradisi yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perkembangan Islam dan kebudayaan Jawa. Dalam pelaksanaannya, gamelan menjadi salah satu unsur penting yang mengiringi rangkaian peringatan Maulid Nabi.
Gusti Moeng menjelaskan bahwa tradisi tersebut telah berlangsung sejak masa Kesultanan Demak. Tradisi gamelan Sekaten kemudian berkembang dan tetap dipertahankan di sejumlah lingkungan keraton di Jawa.
Gamelan Ditabuh Mengikuti Jadwal Tradisi
Dalam rangkaian Sekaten Keraton Solo, Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari ditabuh pada waktu yang telah ditentukan.
Gusti Moeng menyampaikan bahwa gamelan mulai dimainkan pada sekitar pukul 13.30 WIB. Jadwal penabuhan kemudian menyesuaikan dengan rangkaian kegiatan keagamaan dan waktu ibadah.
Setelah rangkaian tertentu berakhir, penabuhan kembali dilakukan sesuai jadwal yang telah disiapkan hingga mendekati puncak peringatan Maulid Nabi.
Tradisi Budaya di Tengah Dinamika Keraton
Perselisihan yang muncul dalam pelaksanaan kegiatan kali ini memperlihatkan bahwa tradisi budaya tidak dapat dipisahkan dari dinamika yang terjadi di lingkungan Keraton Solo.
Di sisi lain, keberadaan gamelan dan rangkaian Sekaten tetap memiliki nilai sejarah serta budaya bagi masyarakat. Tradisi tersebut telah berlangsung lintas generasi dan menjadi bagian dari identitas kebudayaan Surakarta.
Peristiwa adu mulut yang terjadi di tengah rangkaian Sekaten Keraton Solo pun menjadi perhatian karena mempertemukan persoalan internal keraton dengan kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat luas.
Harapannya, perbedaan pandangan di antara pihak-pihak yang berselisih dapat diselesaikan secara baik sehingga tradisi budaya tetap dapat berlangsung dengan tertib dan nilai sejarahnya terus terjaga.