Badung – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sempat mengganggu sejumlah penerbangan di Indonesia. Namun, kondisi tersebut ternyata belum memberikan dampak besar terhadap sektor perhotelan di Pulau Dewata. Okupansi hotel di Bali masih bertahan di kisaran 80 persen karena kunjungan wisatawan tetap ramai selama periode high season.
Tingkat hunian tersebut menunjukkan bahwa Bali masih menjadi pilihan utama wisatawan, terutama turis mancanegara. Sejumlah hotel bahkan mampu mencatat tingkat keterisian kamar di atas rata-rata tersebut.
High Season Membuat Hunian Hotel Tetap Stabil
Periode Ramai Wisatawan Masih Berlangsung
Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, mengatakan tingkat hunian hotel saat ini masih cukup baik.
Menurutnya, periode high season mulai memberikan dampak sejak Juli dan diperkirakan terus berlangsung hingga Oktober. Kondisi tersebut membuat permintaan kamar hotel tetap tinggi meskipun terdapat gangguan pada perjalanan udara.
“Okupansi hotel memang rata-rata masih 80 persen. High season sudah mulai berdampak sejak Juli, Agustus, September, Oktober,” ujar Rai saat dihubungi, Senin (7/9).
Wisman Masih Ramai Berkunjung ke Bali
Kunjungan wisatawan mancanegara juga disebut belum mengalami perubahan signifikan. Rata-rata terdapat sekitar 17 ribu wisatawan asing yang datang ke Bali setiap harinya.
Wisatawan dari Australia, China, dan India menjadi beberapa pasar utama yang turut menopang aktivitas pariwisata Pulau Dewata.
Komposisi wisatawan tersebut dapat berubah sesuai musim dan periode perjalanan. Australia, misalnya, masih menjadi salah satu penyumbang kunjungan terbesar, sementara China dan India juga menunjukkan kontribusi yang cukup kuat.
Kondisi itu turut membantu menjaga okupansi hotel di Bali tetap stabil di tengah gangguan transportasi udara.
Baca Juga Artikel:
Situs Slot Terbaik dengan Customer Service Profesional
Erupsi Anak Krakatau Beri Dampak Terbatas
Sejumlah Penerbangan Sempat Terganggu
Erupsi Gunung Anak Krakatau memang sempat memengaruhi penerbangan dari dan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai. Salah satu rute yang terdampak adalah penerbangan domestik menuju maupun dari Jakarta.
Meski demikian, Rai menilai dampaknya terhadap sektor perhotelan sejauh ini masih relatif kecil. Sebagian wisatawan yang mengalami penundaan penerbangan masih mempunyai beberapa pilihan untuk melanjutkan perjalanan.
Wisatawan yang seharusnya kembali dari Bali menuju Jakarta dapat memperpanjang masa tinggal sambil menunggu kondisi penerbangan membaik. Sementara itu, penumpang dari Jakarta masih dapat mempertimbangkan penerbangan melalui kota lain.
Dengan berbagai alternatif tersebut, gangguan penerbangan belum sampai membuat tingkat hunian hotel anjlok secara signifikan.
Harga Tiket Pesawat Jadi Kekhawatiran
Di balik stabilnya kunjungan wisatawan, PHRI Bali justru menyoroti persoalan lain yang berpotensi memengaruhi pariwisata, yaitu kenaikan harga tiket pesawat.
Menurut Rai, mahalnya tiket dapat menjadi persoalan bagi wisatawan domestik karena biaya transportasi merupakan salah satu komponen utama dalam anggaran liburan.
Wisatawan dalam negeri biasanya menghitung keseluruhan biaya perjalanan, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, makanan hingga aktivitas selama berada di destinasi.
Jika harga tiket terus meningkat, minat wisatawan domestik untuk melakukan perjalanan ke Bali dikhawatirkan ikut terpengaruh. Karena itu, PHRI berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mencari cara untuk menekan biaya penerbangan.
Bali Tetap Jadi Favorit Turis Asing
Target Kunjungan Hingga Akhir Tahun
Untuk wisatawan mancanegara, Rai menilai kenaikan harga tiket belum menjadi ancaman besar. Bali masih mempunyai daya tarik kuat sebagai destinasi wisata internasional.
Keindahan alam, budaya, kuliner, hingga beragam pilihan akomodasi membuat Pulau Dewata tetap diminati wisatawan dari berbagai negara.
Rai berharap tren kunjungan tersebut dapat dipertahankan hingga akhir tahun. Ia bahkan menyebut target kunjungan sekitar 7 juta wisatawan diharapkan dapat tercapai atau sedikit terlampaui.
Dengan kondisi high season yang masih berlangsung, okupansi hotel di Bali diperkirakan tetap memiliki peluang untuk bertahan pada level positif. Namun, perkembangan penerbangan, harga tiket, kondisi cuaca, serta situasi transportasi tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Bagi pelaku pariwisata, stabilnya tingkat hunian hotel menjadi sinyal bahwa daya tarik Bali belum surut. Tantangannya kini adalah memastikan akses menuju Pulau Dewata tetap mudah dan terjangkau agar arus wisatawan dapat terus terjaga.