Kebijakan bagasi Garuda kembali menjadi perhatian setelah Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI) menilai perubahan sistem bagasi berpotensi membuat sebagian penumpang mempertimbangkan maskapai lain. Persoalan muncul karena aturan baru tidak lagi hanya menghitung berat barang, tetapi juga mempertimbangkan jumlah koli atau bagian bagasi yang dibawa.
Perubahan tersebut dinilai perlu dikaji lebih jauh karena kondisi penumpang tidak selalu sama. Ada barang bawaan yang relatif ringan, tetapi memiliki ukuran besar sehingga harus masuk bagasi tercatat. Dalam situasi tertentu, penumpang bisa saja membawa barang dengan berat keseluruhan yang masih wajar, tetapi jumlah kolinya bertambah.
APJAPI Soroti Perubahan Sistem Bagasi
Ketua APJAPI Alvin Lie menyampaikan pandangannya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (9/9/2026). Menurutnya, perubahan mekanisme bagasi berpotensi memengaruhi kenyamanan penumpang, terutama mereka yang membawa barang dengan bentuk atau kemasan tidak biasa.
Pengalaman Membawa Oleh-Oleh
Alvin memberikan contoh berdasarkan pengalamannya saat menjadi pembicara di Balikpapan. Setelah acara selesai, ia mendapatkan sejumlah makanan dari panitia untuk dibawa pulang.
Barang tersebut sebenarnya tidak terlalu berat. Total oleh-oleh diperkirakan hanya sekitar 5–6 kilogram. Namun, makanan itu dikemas dalam sebuah dus berukuran cukup besar sehingga tidak memungkinkan untuk dibawa sebagai barang kabin.
Sebelumnya, Alvin hanya membawa satu koper dengan berat sekitar 10 kilogram. Setelah mendapat oleh-oleh, barang bawaannya berubah menjadi dua koli.
Menurut dia, contoh tersebut menunjukkan bahwa berat dan jumlah koli bisa menghasilkan persoalan berbeda bagi penumpang.
Penumpang Berpotensi Membayar Biaya Tambahan
Dalam sistem yang memperhitungkan jumlah koli, penumpang bisa menghadapi biaya tambahan meskipun total berat barang sebenarnya belum melebihi batas tertentu.
Situasi seperti ini menjadi perhatian karena penumpang mungkin merasa sudah memenuhi ketentuan berdasarkan berat. Namun, ketika barang dipisahkan menjadi dua koli akibat ukuran atau bentuk kemasan, jatah bagasi yang tersedia belum tentu mencukupi.
Baca Juga Artikel:
Slot Sering Free Game dan Fitur Bonus Populer
Pilihan Maskapai Bisa Berubah
Kebijakan bagasi Garuda yang dianggap kurang fleksibel dikhawatirkan memengaruhi keputusan penumpang ketika membeli tiket. Biaya tambahan yang muncul di luar perkiraan dapat menjadi salah satu pertimbangan sebelum melakukan perjalanan.
Alvin menilai pelanggan pada akhirnya akan membandingkan total biaya perjalanan, termasuk kemungkinan biaya bagasi. Jika maskapai lain menawarkan ketentuan yang dianggap lebih sederhana atau sesuai kebutuhan, sebagian penumpang bisa saja beralih.
APJAPI Khawatir Maskapai Lain Mengikuti
APJAPI juga menyoroti kemungkinan perubahan serupa diterapkan oleh perusahaan penerbangan lain. Menurut Alvin, apabila mekanisme tersebut menghasilkan pendapatan tambahan dan tidak mendapat perhatian yang memadai, maskapai lain berpotensi mengikuti langkah serupa.
Kondisi itu dinilai perlu menjadi perhatian karena aturan bagasi merupakan bagian penting dalam pengalaman penumpang. Perubahan kecil dalam ketentuan dapat berdampak langsung terhadap biaya yang harus dikeluarkan pelanggan.
Aturan Harus Memiliki Dasar yang Jelas
Meski menyampaikan kritik, APJAPI tidak menolak perubahan regulasi secara keseluruhan. Organisasi tersebut memahami bahwa maskapai dapat menyesuaikan kebijakan operasional selama memiliki dasar hukum yang jelas.
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana aturan tersebut diterapkan kepada penumpang. Ketentuan idealnya mudah dipahami sejak awal sehingga pelanggan dapat memperkirakan barang yang boleh dibawa sekaligus potensi biaya tambahan.
Penumpang Butuh Kepastian Sebelum Terbang
Kebijakan bagasi Garuda pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan teknis pengelolaan barang. Bagi penumpang, informasi mengenai batas berat, jumlah koli, ukuran, dan kemungkinan biaya tambahan menjadi bagian dari pertimbangan saat membeli tiket.
Karena itu, transparansi menjadi hal penting. Penumpang perlu mengetahui ketentuan secara jelas sebelum melakukan perjalanan agar tidak menghadapi biaya tak terduga di bandara.
Masukan dari APJAPI diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait. Dengan aturan yang jelas dan mudah dipahami, maskapai tetap dapat mengelola bagasi secara efektif tanpa membuat penumpang merasa dirugikan.
Kebijakan bagasi Garuda pun menjadi contoh bahwa perubahan aturan penerbangan perlu mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi pelanggan, bukan hanya aspek operasional.