Pulau Jeju yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata favorit di Korea Selatan mendadak berubah menjadi wilayah siaga. Salju lebat yang turun sejak akhir pekan disertai angin kencang menyebabkan gangguan besar pada transportasi udara, laut, dan darat. Akibat kondisi ini, ribuan wisatawan dan warga terpaksa tertahan, terutama di Bandara Internasional Jeju.
Gunung Hallasan, ikon alam Pulau Jeju, tercatat diselimuti salju dengan ketebalan lebih dari 18 sentimeter. Kondisi cuaca yang memburuk membuat jarak pandang menurun drastis, sehingga aktivitas penerbangan tidak dapat berjalan normal.
Ratusan Penerbangan Dibatalkan di Bandara Jeju
Operasional Bandara Sempat Dihentikan
Gangguan penerbangan mulai terasa sejak Minggu, 8 Februari 2026. Hingga sore hari, ratusan jadwal penerbangan terdampak. Dari ratusan penerbangan yang direncanakan, lebih dari sepertiganya terpaksa dibatalkan, baik untuk kedatangan maupun keberangkatan.
Pihak bandara sempat menghentikan operasional landasan pacu pada pagi hari demi keselamatan. Meski pembersihan salju dilakukan secara intensif, badai salju dan kabut tebal tetap menghambat pesawat untuk lepas landas maupun mendarat.
Beberapa penerbangan juga dialihkan ke bandara lain, namun opsi tersebut terbatas karena cuaca buruk meluas ke wilayah sekitarnya.
Ribuan Penumpang Terlantar
Wisatawan Terpaksa Menambah Hari Libur
Dampak paling terasa dirasakan oleh para penumpang. Otoritas bandara memperkirakan sekitar 11.000 orang tertahan di Pulau Jeju akibat salju lebat yang melumpuhkan jadwal penerbangan.
Sejumlah wisatawan domestik maupun internasional terpaksa mengatur ulang rencana perjalanan. Ada yang memesan tiket baru untuk keesokan hari, bahkan mengambil cuti tambahan karena tidak bisa kembali sesuai jadwal.
Bandara pun dipenuhi penumpang yang menunggu kepastian penerbangan, dengan antrean panjang di loket informasi dan maskapai.
Langkah Darurat dari Otoritas Setempat
Tambahan Penerbangan dan Fasilitas Penumpang
Untuk mengurangi kepadatan, otoritas bandara menyiapkan penerbangan tambahan pada malam hari setelah kondisi cuaca mulai membaik. Ribuan kursi ekstra disediakan agar penumpang bisa segera meninggalkan pulau.
Selain itu, sistem tanggap darurat 24 jam diaktifkan. Ribuan selimut, kasur darurat, dan air minum disiapkan di area bandara bagi penumpang yang harus bermalam. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan penumpang selama menunggu jadwal penerbangan baru.
Transportasi Laut dan Wisata Alam Ikut Terdampak
Jalur Feri dan Pendakian Ditutup
Tidak hanya penerbangan, salju lebat juga berdampak pada transportasi laut. Peringatan badai dikeluarkan di perairan sekitar Jeju, menyebabkan seluruh layanan feri ke pulau-pulau terdekat dihentikan sementara.
Di sisi lain, seluruh jalur pendakian di Taman Nasional Hallasan ditutup demi keselamatan pengunjung. Angin kencang dan timbunan salju membuat risiko kecelakaan meningkat, terutama di jalur pegunungan dan kawasan wisata alam terbuka.
Kecelakaan dan Kerusakan Infrastruktur
Jalan Licin Picu Insiden
Cuaca ekstrem turut memicu sejumlah kecelakaan lalu lintas. Beberapa kendaraan dilaporkan tergelincir di jalan yang tertutup salju, menyebabkan korban luka ringan. Selain itu, sejumlah rumah kaca pertanian rusak akibat tidak mampu menahan beban salju yang menumpuk.
Pemerintah daerah mengimbau warga dan wisatawan untuk membatasi aktivitas luar ruang hingga kondisi benar-benar aman.
Situasi Berangsur Membaik
Meski kondisi sempat kritis, otoritas setempat menyatakan cuaca mulai membaik secara bertahap. Operasional bandara kembali berjalan perlahan, meskipun masih berpotensi mengalami penyesuaian jadwal.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cuaca musim dingin ekstrem, terutama salju lebat, dapat berdampak besar pada aktivitas wisata dan transportasi di kawasan populer seperti Pulau Jeju.
Baca Juga Artikel:
5 Tempat Makan Hits di SCBD yang Baru Buka & Wajib Dicoba