Di tengah padatnya permukiman Jakarta Timur, terdapat sebuah ruang terbuka hijau yang menyimpan cerita panjang tentang masa lalu wilayahnya. Taman Kopi di kawasan Pekayon, Pasar Rebo, bukan sekadar taman kota biasa. Nama yang tertera di pintu masuknya menyimpan jejak sejarah tentang tanaman kopi yang dahulu mendominasi kawasan ini, jauh sebelum berubah menjadi lingkungan urban seperti sekarang.
Bagi warga sekitar maupun pendatang, taman ini kerap menjadi tempat rehat dari hiruk pikuk kota. Namun di balik keteduhan pepohonan dan jalur pejalan kaki yang tertata, tersimpan kisah tentang perubahan zaman yang perlahan menghapus jejak alamnya.
Asal-usul Nama Taman Kopi di Pasar Rebo
Dulu Dipenuhi Pohon Kopi
Menurut Sain (53), perawat taman yang sehari-hari bertugas menjaga kawasan ini, wilayah sekitar taman dan jalan di sekitarnya dulunya merupakan area yang dipenuhi tanaman kopi. Pohon kopi tumbuh memanjang mengikuti jalur jalan hingga ke area bundaran dan kawasan industri di sekitarnya.
Ia menjelaskan bahwa penamaan kawasan ini tidak lepas dari karakter alamnya pada masa lalu. Seperti banyak daerah lain di Jakarta, nama wilayah sering kali diambil dari tanaman atau hasil bumi yang dominan saat itu.
Nama Kawasan sebagai Penanda Sejarah
Sain mencontohkan kawasan Condet yang dulu dikenal sebagai sentra salak. Meski kini telah berubah menjadi permukiman, nama “Salak Condet” tetap melekat sebagai penanda sejarah. Hal serupa terjadi pada kawasan Pasar Rebo ini, di mana kopi menjadi identitas wilayah pada masanya.
Pohon Kopi yang Tersisa, Simbol Masa Lalu
Dari Rimbun Menjadi Tinggal Satu
Sayangnya, perkembangan kota membuat keberadaan tanaman kopi semakin tergerus. Saat ini, hampir seluruh pohon kopi yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut telah hilang. Berdasarkan pengamatan di lokasi, hanya satu pohon kopi yang masih bertahan di area taman sebagai simbol sejarah.
Sain menyebutkan bahwa sebelumnya terdapat dua pohon kopi, namun satu di antaranya mati. Pohon yang tersisa kini dijaga sebagai pengingat bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari sejarah perkebunan kopi di Jakarta Timur.
Taman Kopi sebagai Ruang Publik Favorit Warga
Ramai Setelah Pandemi
Taman ini mulai dibuka dan ditata sejak tahun 2015. Namun, lonjakan jumlah pengunjung baru terasa setelah pandemi COVID-19 mereda. Banyak warga yang mulai mencari ruang terbuka hijau untuk sekadar berjalan santai, berolahraga, atau menikmati udara segar.
Menariknya, pengunjung Taman Kopi tidak hanya berasal dari sekitar Pekayon dan Pasar Rebo. Banyak pula warga dari Depok hingga Jakarta Selatan yang sengaja datang, terutama saat akhir pekan.
Pola Kunjungan Pengunjung
Menurut Sain, hari Jumat hingga Minggu menjadi waktu paling ramai. Saat cuaca panas, pengunjung biasanya memilih datang pada sore hari. Sementara warga sekitar lebih sering memanfaatkan taman ini pada pagi hari untuk berolahraga ringan.
Aturan Ketat Demi Kenyamanan Bersama
Izin dan Larangan Kegiatan
Sebagai ruang publik, taman ini juga sering digunakan untuk kegiatan komunitas, baik sosial maupun keagamaan. Namun, pengelola menerapkan aturan yang cukup ketat. Kegiatan yang melibatkan lebih dari 30 orang wajib mengantongi izin dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur.
Selain itu, tidak diperbolehkan menggelar panggung hiburan besar atau acara musik dengan band. Kegiatan hanya boleh dilakukan secara sederhana di area rumput atau gazebo.
Kawasan Bebas Rokok dan Bola
Demi menjaga kenyamanan dan keasrian, pengunjung dilarang bermain bola di atas rumput serta dilarang merokok di dalam area taman. Aturan ini diterapkan agar taman tetap bersih, aman, dan nyaman bagi semua kalangan, termasuk anak-anak dan lansia.
Pilihan Healing Tenang di Jakarta Timur
Dengan suasana yang relatif tenang dan aturan yang tertib, Taman Kopi menjadi pilihan tepat bagi siapa pun yang ingin melepas penat tanpa harus keluar kota. Meski jejak perkebunan kopi kini hanya tersisa satu pohon, nilai sejarah dan fungsi sosial taman ini tetap hidup sebagai bagian dari wajah Jakarta Timur yang ramah dan hijau.
Baca Juga Artikel:
5 Soto Padang Berempah Paling Enak di Jakarta