Indonesia punya nama besar di industri kopi global. Dari Gayo, Mandailing, Toraja, Kintamani hingga Flores, berbagai daerah menawarkan biji kopi dengan karakter yang khas. Namun, kekayaan tersebut belum membawa Indonesia masuk dalam daftar destinasi kopi terbaik dunia versi Holafly Coffee Travel Index 2026.
Holafly menilai 18 destinasi melalui lima kategori. Penilaian mencakup sejarah dan asal-usul kopi, jumlah kafe, infrastruktur wisata kopi, harga kopi spesialti, serta minat wisatawan internasional. Setiap kategori memiliki bobot yang sama, yakni 20 persen.
Hasilnya cukup menarik. Eje Cafetero di Kolombia menempati posisi pertama, sementara Ho Chi Minh City di Vietnam menjadi wakil Asia Tenggara dengan posisi tertinggi.
Eje Cafetero Jadi Destinasi Kopi Terbaik Dunia 2026
Eje Cafetero meraih posisi teratas dengan skor 71,4 poin. Kawasan penghasil kopi terkenal di Kolombia ini menawarkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar duduk dan menikmati secangkir kopi.
Wisatawan dapat mengunjungi perkebunan, mengenal proses produksi, mempelajari sejarah kopi lokal, hingga berinteraksi dengan keluarga petani. Pengunjung bahkan dapat melihat langsung bagaimana buah kopi tumbuh dan menjalani proses sebelum akhirnya sampai ke cangkir.
Harga menjadi daya tarik lainnya. Berdasarkan data Holafly, secangkir kopi spesialti di kawasan tersebut rata-rata berada di kisaran USD 1,50 atau sekitar Rp27 ribu berdasarkan konversi yang digunakan dalam laporan.
Menikmati Kopi Langsung dari Daerah Asalnya
Salento menjadi salah satu tempat yang menarik perhatian di kawasan tersebut. Lanskap hijau dan suasana pegunungan membuat aktivitas menjelajahi perkebunan terasa berbeda dari pengalaman minum kopi di kota besar.
Wisatawan juga bisa mendatangi perkebunan kopi keluarga yang telah bertahan selama beberapa generasi. Karena itu, Eje Cafetero menggabungkan wisata alam, sejarah, budaya, dan kopi dalam satu perjalanan.
Ho Chi Minh City Mewakili Asia Tenggara
Posisi kedua ditempati Ho Chi Minh City dengan skor 66,8 poin. Kota terbesar di Vietnam itu bahkan berada di atas beberapa nama yang sudah lama terkenal dengan budaya kopinya, termasuk Melbourne dan Roma.
Kekuatan Ho Chi Minh City terletak pada keberagaman pengalaman. Pengunjung dapat menikmati kopi di kedai sederhana pinggir jalan, kemudian berpindah ke kafe spesialti modern dengan konsep yang jauh berbeda.
Selain itu, harga minumannya relatif terjangkau. Secangkir kopi tradisional Vietnam atau kopi spesialti rata-rata berada di sekitar USD 2 atau sekitar Rp33 ribu menurut perhitungan yang dicantumkan.
Vietnam sendiri memiliki hubungan erat dengan industri kopi global, khususnya robusta. Budaya menikmati kopi juga telah menyatu dengan aktivitas harian masyarakat di berbagai kota.
Salah satu sajian yang paling dikenal adalah ca phe sua da. Minuman ini memadukan kopi pekat yang dibuat menggunakan filter khas Vietnam dengan susu kental manis dan es.
Baca Juga Artikel:
Pencahayaan Ruang Makan agar Terlihat Lebih Hangat
Addis Ababa dan Jejak Panjang Kopi Ethiopia
Addis Ababa berada di posisi ketiga dengan 64,1 poin. Ibu kota Ethiopia tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena Ethiopia mempunyai hubungan sejarah yang sangat kuat dengan kopi Arabika.
Tradisi menikmati kopi di negara ini juga berbeda dari budaya kafe modern. Upacara kopi Ethiopia memperlihatkan bagaimana kopi hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Hal tersebut membuat perjalanan kopi di Addis Ababa bukan hanya mengenai rasa. Wisatawan juga dapat mengenal sejarah serta tradisi yang berkembang di balik minuman tersebut.
Melbourne hingga Yaman Lengkapi Daftar 10 Besar
Melbourne menempati urutan keempat dengan 62,5 poin. Kota Australia tersebut terkenal dengan budaya kafe dan perkembangan kopi spesialti yang kuat.
Sementara itu, Roma berada di posisi kelima dengan 58,9 poin. Tradisi espresso Italia membuat kota ini memiliki karakter berbeda dibandingkan destinasi berbasis perkebunan seperti Kolombia.
Minas Gerais di Brasil kemudian berada pada posisi keenam. Antigua di Guatemala menyusul pada urutan ketujuh, sedangkan Havana di Kuba menempati posisi kedelapan.
Kigali di Rwanda menduduki urutan kesembilan. Sementara itu, Sana’a dan Haraz di Yaman menutup daftar destinasi kopi terbaik dunia versi indeks tersebut pada posisi kesepuluh.
Berikut daftar lengkap beserta skornya:
- Eje Cafetero, Kolombia — 71,4 poin
- Ho Chi Minh City, Vietnam — 66,8 poin
- Addis Ababa, Ethiopia — 64,1 poin
- Melbourne, Australia — 62,5 poin
- Roma, Italia — 58,9 poin
- Minas Gerais, Brasil — 57,3 poin
- Antigua, Guatemala — 54,2 poin
- Havana, Kuba — 52,8 poin
- Kigali, Rwanda — 49,1 poin
- Sana’a dan Haraz, Yaman — 46,5 poin
Mengapa Indonesia Tidak Masuk 10 Besar?
Absennya Indonesia dari daftar tersebut tidak berarti kualitas kopi Indonesia lebih rendah. Perlu diingat, Holafly tidak hanya menilai kualitas atau produksi biji kopi.
Indeks tersebut menggunakan beberapa indikator wisata. Infrastruktur perjalanan, jumlah kafe, harga, sejarah, dan permintaan wisatawan internasional ikut menentukan skor akhir.
Indonesia sendiri memiliki banyak kawasan yang berpotensi menawarkan pengalaman wisata kopi. Aceh memiliki Gayo, Sumatera Utara terkenal dengan Mandailing dan Lintong, sedangkan Bali memiliki kawasan Kintamani.
Di sisi lain, Jawa, Sulawesi, dan Flores juga mempunyai identitas kopi masing-masing. Keanekaragaman ini memberikan peluang besar untuk mengembangkan perjalanan yang menghubungkan perkebunan, petani, proses pengolahan, budaya lokal, dan pengalaman mencicipi kopi.
Dengan demikian, tidak masuknya Indonesia dalam 10 besar sebaiknya dibaca sesuai metodologi indeks tersebut. Daftar ini membandingkan pengalaman destinasi secara keseluruhan, bukan menentukan negara mana yang menghasilkan kopi paling enak.
Wisata Kopi Kini Lebih dari Sekadar Mencari Kafe
Perjalanan berbasis kopi semakin menarik karena wisatawan tidak hanya mencari tempat untuk menikmati minuman. Mereka juga ingin mengetahui asal biji, bertemu petani, melihat proses pengolahan, dan memahami budaya masyarakat setempat.
Inilah yang membuat sejumlah destinasi kopi terbaik dunia memiliki daya tarik kuat. Mereka menghubungkan secangkir kopi dengan cerita mengenai alam, manusia, sejarah, dan tradisi.
Indonesia sebenarnya mempunyai banyak unsur tersebut. Tantangannya adalah mengemas potensi yang tersebar di berbagai daerah menjadi pengalaman wisata yang mudah ditemukan dan diakses wisatawan. Holafly Coffee Travel Index 2026 menempatkan Eje Cafetero di Kolombia pada posisi pertama, disusul Ho Chi Minh City dan Addis Ababa. Indonesia memang belum masuk 10 destinasi kopi terbaik dunia dalam daftar tersebut.
Namun, hasil ini tidak menghapus kekayaan kopi Nusantara. Justru, beragam daerah penghasil kopi di Indonesia menunjukkan bahwa peluang pengembangan wisata kopi masih terbuka lebar, terutama jika perkebunan, budaya lokal, kuliner, dan pengalaman wisata dapat terhubung dengan lebih baik.
Bagi pencinta kopi, daftar tersebut juga bisa menjadi inspirasi perjalanan berikutnya. Namun, menjelajahi kebun dan kedai kopi lokal di Indonesia tetap menawarkan cerita yang tidak kalah menarik.