Kembalinya F1 di Sepang menjadi salah satu momen besar bagi dunia olahraga dan pariwisata Malaysia pada 2026. Setelah sembilan tahun tidak menggelar balapan Formula 1, Sepang International Circuit kembali dipenuhi penggemar dari berbagai negara pada 2–4 Oktober 2026.
Antusiasme penonton bahkan menghasilkan catatan baru bagi sirkuit tersebut. Sepanjang akhir pekan balapan, sekitar 261 ribu kunjungan tercatat di Sepang. Sementara itu, sekitar 103 ribu penonton hadir pada Minggu (4/10) untuk menyaksikan balapan utama.
F1 di Sepang Kembali Setelah Sembilan Tahun
Malaysia memiliki sejarah panjang bersama Formula 1. Sepang pertama kali masuk kalender F1 pada 1999 dan rutin menjadi lokasi Grand Prix hingga penyelenggaraan terakhir pada 2017.
Namun, kembalinya Formula 1 pada 2026 terjadi dalam situasi yang berbeda. Malaysia tidak kembali sebagai penyelenggara Grand Prix nasional secara permanen.
Sepang mendapat kesempatan menggelar balapan setelah Grand Prix Bahrain tidak dapat berlangsung di lokasi semula. Situasi di Timur Tengah membuat penyelenggara memindahkan balapan tersebut ke Malaysia.
Meski berlangsung di Sepang, nama resmi Gulf Air Bahrain Grand Prix tetap digunakan. Kondisi tersebut membuat balapan tahun ini menjadi peristiwa yang cukup unik dalam sejarah sirkuit Malaysia.
Sepang Menjadi Lokasi Pengganti Bahrain
Pemilihan Sepang bukan tanpa alasan. Sirkuit ini pernah menjadi bagian dari kalender Formula 1 selama bertahun-tahun dan memiliki fasilitas untuk menggelar kompetisi balap internasional.
Malaysia menangani berbagai kebutuhan lokal selama penyelenggaraan. Selain itu, pengelola memastikan fasilitas Sepang memenuhi standar yang diperlukan untuk menjalankan akhir pekan Formula 1.
Skema pembiayaannya juga berbeda dibandingkan era Grand Prix Malaysia. Bahrain menanggung biaya utama hak penyelenggaraan, sedangkan Malaysia lebih berfokus pada kebutuhan operasional di lokasi.
Rekor 261 Ribu Penonton Ramaikan Sepang
Kehadiran F1 di Sepang langsung mendapatkan respons besar dari penggemar. Total kunjungan selama tiga hari mencapai sekitar 261 ribu dan menjadi rekor baru bagi Sepang International Circuit.
Puncak keramaian terjadi pada hari balapan. Sekitar 103 ribu orang datang ke sirkuit pada Minggu untuk melihat langsung persaingan para pembalap Formula 1.
Besarnya jumlah penonton juga memperlihatkan daya tarik Sepang setelah sembilan tahun absen dari kalender F1. Selain penggemar lokal, wisatawan internasional ikut meramaikan kawasan sekitar sirkuit.
Sekitar 4.000 wisatawan asal Bahrain dilaporkan datang ke Malaysia untuk mengikuti akhir pekan balapan. Kehadiran penonton dari luar negeri kemudian memberikan peluang tambahan bagi sektor pariwisata dan bisnis lokal.
Baca Juga Artikel:
Perbedaan Sofa Minimalis dan Sofa Klasik untuk Rumah
Pariwisata Malaysia Ikut Mendapat Dorongan
Formula 1 tidak hanya menghadirkan aktivitas di dalam sirkuit. Ribuan pengunjung membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, hingga berbagai layanan selama berada di Malaysia.
Karena itu, hotel dan restoran menjadi beberapa sektor yang berpotensi merasakan dampak langsung. Penerbangan, transportasi darat, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan juga berpeluang memperoleh tambahan aktivitas.
Presiden Motorsports Associations of Malaysia (MAM), Tan Sri Mokhzani Mahathir, turut menyoroti pengaruh penyelenggaraan balapan terhadap pariwisata. Menurut informasi yang disampaikan, sektor hotel, penerbangan serta makanan dan minuman ikut memperoleh manfaat dari kedatangan wisatawan.
Potensi Aktivitas Ekonomi Mencapai Miliaran Ringgit
Sebelum penyelenggaraan berlangsung, Hong Leong Investment Bank (HLIB) memperkirakan event tersebut berpotensi menghasilkan aktivitas ekonomi sekitar RM 1,1–1,3 miliar. Nilainya setara dengan sekitar Rp 4,83–5,71 triliun berdasarkan konversi yang digunakan dalam perkiraan tersebut.
HLIB juga memperkirakan rata-rata pengeluaran setiap wisatawan F1 mencapai RM 8.879 atau sekitar Rp 38 juta selama kunjungan mereka. Pengeluaran tersebut dapat tersebar ke berbagai sektor ekonomi.
Namun, angka itu masih berupa perkiraan sebelum acara. Dampak ekonomi sebenarnya perlu mengacu pada data akhir mengenai pengeluaran wisatawan, tingkat hunian hotel, transaksi bisnis, dan indikator lain setelah seluruh kegiatan selesai.
Target Wisatawan dan Realisasi Kunjungan
Pemerintah Malaysia sebelumnya menargetkan sekitar 300 ribu wisatawan selama periode Formula 1. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 ribu orang diperkirakan berasal dari luar negeri.
Sementara itu, catatan di Sepang menunjukkan sekitar 261 ribu kunjungan sepanjang akhir pekan. Angka ini menggambarkan tingginya minat masyarakat terhadap kembalinya balapan kelas dunia tersebut.
Perlu dicatat bahwa jumlah kunjungan sirkuit tidak selalu sama dengan jumlah wisatawan unik. Satu orang dapat menghadiri lebih dari satu hari sehingga perhitungan dampak pariwisata membutuhkan data yang lebih terperinci.
Meski demikian, keramaian tersebut tetap memberikan gambaran mengenai besarnya aktivitas yang tercipta selama akhir pekan balapan.
F1 dan Strategi Sport Tourism Malaysia
Malaysia sudah lama memanfaatkan olahraga internasional sebagai salah satu daya tarik wisata. Kehadiran F1 di Sepang kembali menunjukkan bagaimana ajang motorsport dapat membawa pengunjung sekaligus meningkatkan perhatian dunia terhadap sebuah destinasi.
Lokasi Sepang juga memiliki keuntungan dari sisi akses. Kedekatannya dengan kawasan Kuala Lumpur dan bandara internasional membantu pergerakan wisatawan yang datang dari luar negeri.
Selain itu, pengunjung tidak hanya menghabiskan waktu di sirkuit. Mereka dapat memperpanjang perjalanan untuk mengunjungi pusat kota, mencoba kuliner lokal, berbelanja, atau mendatangi destinasi lain.
Dengan demikian, nilai sebuah ajang olahraga tidak berhenti pada penjualan tiket. Efeknya dapat menyebar ke banyak aktivitas ekonomi di sekitar lokasi penyelenggaraan.
Kembalinya F1 di Sepang setelah sembilan tahun menghasilkan antusiasme besar. Sekitar 261 ribu kunjungan tercatat selama akhir pekan, sedangkan hari balapan menarik sekitar 103 ribu penonton ke sirkuit.
Penyelenggaraan kali ini juga berbeda dari era Grand Prix Malaysia karena Sepang menjadi lokasi pengganti untuk Bahrain. Bahrain menanggung biaya utama hak penyelenggaraan, sementara Malaysia mempersiapkan kebutuhan lokal.
Di luar lintasan, dampaknya menjangkau sektor hotel, transportasi, penerbangan, kuliner, dan pariwisata. Data ekonomi akhir masih perlu dihitung, tetapi besarnya jumlah penonton menunjukkan bahwa Formula 1 tetap memiliki daya tarik kuat bagi Sepang dan industri wisata Malaysia.