Jakarta – Hubungan antara Aljazair dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali memanas setelah Aljazair mengambil langkah tegas dengan menutup wilayah udaranya bagi pesawat yang terdaftar di UEA. Kebijakan tersebut mencakup penerbangan sipil maupun militer dan menjadi bagian dari rangkaian ketegangan diplomatik kedua negara.
Larangan itu mulai berlaku pada Jumat lalu, setelah Aljazair lebih dulu memutuskan hubungan diplomatik dengan UEA. Meski demikian, penerbangan komersial yang menuju atau berasal dari Bandara Algiers masih mendapatkan pengecualian dan diizinkan beroperasi hingga akhir 2026.
Wilayah Udara Aljazair Ditutup untuk Pesawat UEA
Kementerian Pertahanan Aljazair menyatakan pembatasan tersebut berlaku bagi pesawat sipil dan militer yang terdaftar di UEA. Keputusan itu diambil ketika hubungan bilateral kedua negara semakin memburuk setelah berlangsungnya sejumlah perselisihan dalam beberapa tahun terakhir.
Penerbangan Komersial Masih Mendapat Pengecualian
Meskipun ruang udara dibatasi, pemerintah Aljazair masih memberikan kelonggaran terhadap penerbangan komersial tertentu. Pesawat yang melayani rute menuju dan dari Bandara Algiers tetap dapat beroperasi sampai penghujung 2026.
Pengecualian tersebut menunjukkan bahwa pembatasan belum sepenuhnya menghentikan hubungan penerbangan komersial antara kedua negara. Namun, penerbangan yang menggunakan pesawat terdaftar di UEA tetap menghadapi ketentuan baru tersebut.
Aljazair Sebut Hubungan Bilateral Tak Lagi Bisa Dipertahankan
Sebelum mengambil langkah terkait penerbangan, pemerintah Aljazair telah mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan UEA. Kementerian Luar Negeri Aljazair menyebut keputusan itu diambil setelah berbagai upaya untuk mempertahankan hubungan kedua negara tidak membuahkan hasil.
Duta Besar UEA Diminta Meninggalkan Aljazair
Pada Kamis, Aljazair memberikan waktu 48 jam kepada Duta Besar UEA untuk meninggalkan negara tersebut. Pemerintah Aljazair mengatakan langkah itu berkaitan dengan tindakan yang mereka nilai semakin sulit diterima.
Pemerintah juga menuding UEA melakukan tindakan yang dianggap provokatif dan bermusuhan. Namun, Aljazair tidak menjelaskan secara terperinci tindakan tertentu yang menjadi pemicu langsung pemutusan hubungan diplomatik.
Baca Juga Artikel:
Furnitur Ruang Tamu: Ide Modern untuk Hunian Minimalis
UEA Menyayangkan Keputusan Aljazair
Pemerintah UEA menyatakan penyesalan atas keputusan yang diambil Aljazair. Abu Dhabi berharap ketegangan tersebut hanya berlangsung sementara dan kedua negara masih dapat menjaga hubungan yang disebut memiliki ikatan persaudaraan.
Perbedaan pandangan antara kedua pihak memang telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan bilateral, tetapi juga menyentuh kebijakan luar negeri kedua negara di kawasan Afrika Utara dan Sahel.
Perselisihan Menyangkut Libya, Mali, dan Sudan
Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune sebelumnya beberapa kali menuding UEA berusaha memengaruhi stabilitas sejumlah negara di kawasan, termasuk Libya, Mali, dan Sudan.
Ketegangan semakin terlihat karena kedua negara memiliki pendekatan berbeda dalam melihat persoalan geopolitik regional. Aljazair cenderung mempertahankan prinsip politik luar negeri yang menekankan kedaulatan negara dan tidak mencampuri urusan internal negara lain.
Perbedaan Politik Luar Negeri Semakin Terlihat
Perselisihan Aljazair UEA juga berkaitan dengan perbedaan sikap terhadap berbagai perkembangan politik di kawasan. Aljazair menilai keterlibatan Abu Dhabi di Afrika Utara dan kawasan Sahel dapat memberikan dampak terhadap keamanan nasionalnya.
Perbedaan pandangan tersebut semakin menonjol setelah UEA menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020. Langkah itu menjadi salah satu bagian dari perubahan hubungan diplomatik di Timur Tengah yang mendapat respons berbeda dari negara-negara Arab.
Hubungan Kini Memasuki Babak Baru
Keputusan menutup wilayah udara memperlihatkan bahwa perselisihan Aljazair UEA telah memasuki tahap yang lebih serius. Pembatasan terhadap pesawat terdaftar di UEA juga dapat memberikan dampak terhadap aktivitas penerbangan tertentu, meskipun penerbangan komersial ke dan dari Algiers masih mendapat pengecualian hingga akhir 2026.
Untuk saat ini, belum ada kepastian mengenai berapa lama ketegangan diplomatik tersebut akan berlangsung. Kedua negara masih memiliki kepentingan ekonomi dan hubungan dengan kawasan yang lebih luas.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada langkah diplomatik masing-masing pihak. Jika komunikasi kembali terbuka, ketegangan mungkin dapat diredakan. Namun, apabila perbedaan kebijakan terus berlanjut, hubungan Aljazair UEA berpotensi menghadapi pembatasan yang lebih luas.
Bagi dunia internasional, situasi ini menjadi perkembangan penting karena menyangkut hubungan dua negara yang memiliki kepentingan strategis di Afrika Utara, kawasan Sahel, serta Timur Tengah.