Sydney, Australia – Perjalanan pulang dari Jepang berubah menjadi pengalaman menegangkan bagi penumpang All Nippon Airways (ANA) penerbangan NH899. Setelah mendarat di Bandara Sydney, mereka justru menghadapi pemeriksaan ketat oleh polisi bersenjata akibat Ancaman Bom Sydney yang muncul saat pesawat masih mengudara.
Patrick Wild dan istrinya, Narelle, termasuk penumpang yang mengalami kejadian tersebut pada Kamis (5/11). Keduanya baru menyelesaikan liburan selama dua minggu di Jepang dan berharap segera tiba di rumah. Namun, situasi di bandara membuat perjalanan mereka berakhir jauh dari perkiraan.
Pesawat ANA Tertahan Setelah Mendarat di Sydney
Penerbangan NH899 dari Tokyo tiba di Bandara Sydney sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Awalnya, para penumpang tidak melihat tanda-tanda gangguan serius hingga pilot menyampaikan informasi mengenai masalah keamanan.
Awak pesawat meminta seluruh penumpang tetap berada di kursi selama sekitar 20 menit. Akan tetapi, waktu tunggu terus bertambah hingga mencapai kurang lebih satu setengah jam.
Kepada ABC News, Wild mengungkapkan bahwa mereka tidak mendapat penjelasan terperinci mengenai alasan penundaan tersebut. Penumpang hanya mengetahui bahwa pesawat belum memperoleh izin untuk melanjutkan proses kedatangan.
Sementara itu, petugas mengarahkan pesawat menuju bagian bandara yang terpisah dari aktivitas penerbangan lainnya. Sejumlah personel Kepolisian Federal Australia (AFP), petugas keamanan, dan tim pemadam kebakaran penerbangan sudah bersiaga di sekitar lokasi.
Polisi Bersenjata dan Anjing Pelacak Periksa Barang Penumpang
Ketegangan semakin terasa ketika petugas akhirnya membuka pintu pesawat. Alih-alih langsung menuju terminal kedatangan, seluruh penumpang harus mengikuti pemeriksaan keamanan tambahan.
Petugas AFP meminta mereka turun secara bergantian dan meletakkan barang bawaan di lantai. Setelah itu, anjing pelacak memeriksa koper kabin, ransel, serta kantong belanja yang mereka bawa.
Wild mengaku melihat sekitar lima hingga enam personel kepolisian membawa senapan semi-otomatis. Kehadiran petugas bersenjata membuat suasana kedatangan terasa berbeda dari penerbangan biasa.
Meski demikian, pemeriksaan berlangsung sebagai langkah pencegahan terhadap potensi bahaya. Petugas harus memastikan tidak ada benda mencurigakan sebelum mengizinkan penumpang melanjutkan perjalanan.
Setelah pemeriksaan barang bawaan selesai, rombongan diarahkan menuju area dekat toko bebas bea. Mereka kembali menunggu sekitar satu jam sebelum memperoleh izin mengambil bagasi.
Bagi Wild, persoalan paling mengganggu justru minimnya informasi selama proses tersebut. Ia merasa penumpang seharusnya mendapatkan penjelasan mengenai alasan pemeriksaan yang berlangsung cukup lama.
Ancaman Bom Sydney Baru Diketahui Penumpang Setelah Keluar Bandara
Wild akhirnya mengetahui dugaan penyebab kejadian itu melalui pemberitaan yang ia baca menggunakan ponselnya setelah meninggalkan bandara.
Dari laporan tersebut, ia mengetahui adanya ancaman bom yang masuk dari luar negeri. Informasi itu membuatnya menduga bahwa pemeriksaan terhadap penerbangan NH899 berkaitan dengan situasi keamanan yang sedang berlangsung.
AFP kemudian membenarkan bahwa pemeriksaan tambahan merupakan respons terhadap ancaman yang menyasar bandara. Pihak berwenang menerima informasi tersebut tidak lama setelah pukul 18.00 waktu setempat.
Artinya, ketika ancaman muncul, pesawat yang membawa Wild dan penumpang lainnya masih berada dalam perjalanan menuju Sydney.
Kepolisian menegaskan bahwa keselamatan penumpang, pekerja bandara, dan seluruh fasilitas penerbangan menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, petugas menjalankan langkah pengamanan sebelum mengizinkan aktivitas kembali normal.
Setelah melakukan pemeriksaan, otoritas menyatakan bandara dan pesawat dalam kondisi aman. Operasional penerbangan pun kembali berjalan seperti biasa.
Baca Juga Artikel:
Kesalahan Dekorasi Rumah: Cara Menata Ruang Lebih Rapi
Puluhan Penerbangan di Eropa Mengalami Gangguan Serupa
Insiden di Australia berlangsung ketika sejumlah bandara Eropa juga menghadapi gelombang ancaman bom. Berdasarkan laporan yang dikutip CNN, hampir 30 penerbangan mengalami gangguan keamanan pada hari yang sama.
Dampaknya berbeda-beda pada setiap penerbangan. Ada pesawat yang terpaksa mengubah tujuan, sementara penerbangan lain membutuhkan pengawalan jet tempur atau pemeriksaan langsung di landasan.
Sejumlah maskapai yang terdampak antara lain Ryanair, Wizz Air, Aer Lingus, Finnair, LOT, easyJet, Iberia, Air Europa, Air Serbia, Aegean, dan SAS.
Di Bukares, Rumania, hampir 200 penumpang Wizz Air harus menjalani evakuasi setelah pesawat mendarat. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan untuk memastikan keamanan penerbangan tersebut.
Situasi berbeda dialami penumpang Aer Lingus yang melakukan perjalanan dari Dublin menuju Roma. Pesawat mereka justru mendarat di pangkalan militer Evreux, Prancis, sebagai bagian dari penanganan ancaman keamanan.
Gangguan tersebut menunjukkan bagaimana informasi mengenai potensi bom dapat memengaruhi jadwal penerbangan di beberapa negara sekaligus.
Bagaimana Petugas Menangani Ancaman Bom pada Pesawat?
Pakar keamanan penerbangan Inggris, Julian Bray, menjelaskan kepada ABC Radio National bahwa penanganan ancaman melibatkan koordinasi antara petugas lalu lintas udara, pilot, dan otoritas keamanan.
Ketika petugas menerima informasi ancaman, mereka meneruskannya kepada awak pesawat. Selanjutnya, kapten mempertimbangkan kondisi penerbangan untuk menentukan langkah yang paling aman.
Dalam situasi tertentu, pilot dapat mengalihkan penerbangan menuju bandara alternatif. Namun, pesawat juga bisa melanjutkan perjalanan ke tujuan awal apabila penilaian keamanan memungkinkan.
Setelah mendarat, petugas biasanya mengarahkan pesawat menuju area yang jauh dari aktivitas utama bandara. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko terhadap penumpang dan fasilitas lain.
Tim keamanan kemudian memeriksa kabin, kompartemen penyimpanan, dan barang bawaan secara sistematis. Anjing pelacak juga dapat membantu menemukan indikasi bahan peledak.
Pemeriksaan baru berakhir setelah petugas memastikan tidak ada ancaman yang membahayakan keselamatan.
Belum Ada Bukti Keterkaitan Ancaman di Australia dan Eropa
Berdasarkan laporan mengenai rangkaian kejadian tersebut, pemeriksaan tidak menemukan bahan peledak pada pesawat yang menerima ancaman.
Sejumlah pesan ancaman yang menyasar bandara Roma dan Sofia diketahui menggunakan nama “pejuang Male State”. Nama tersebut merujuk pada gerakan ultranasionalis dan misoginis yang berasal dari Rusia.
Meski begitu, penggunaan nama kelompok dalam pesan tidak membuktikan siapa pelaku sebenarnya. Penyelidik juga belum menemukan bukti yang memastikan keterlibatan organisasi teror maupun pemerintah negara tertentu.
Otoritas Australia pun belum dapat menyimpulkan apakah ancaman di Sydney memiliki hubungan langsung dengan gangguan penerbangan di Eropa.
Karena itu, dugaan mengenai pihak yang bertanggung jawab masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Liburan Dua Minggu Berakhir dengan Pengalaman Menegangkan
Bagi Patrick dan Narelle Wild, perjalanan dari Jepang menuju Australia semestinya menjadi akhir liburan yang menyenangkan. Namun, pemeriksaan keamanan membuat mereka menghabiskan waktu tambahan sekitar tiga jam sebelum dapat meninggalkan area bandara.
Pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang berbeda dari perjalanan sebelumnya. Mereka harus menghadapi polisi bersenjata, pemeriksaan anjing pelacak, serta ketidakpastian mengenai situasi yang sebenarnya terjadi.
Meski Ancaman Bom Sydney akhirnya tidak terbukti menimbulkan bahaya, kejadian tersebut memperlihatkan betapa seriusnya otoritas penerbangan menangani setiap informasi ancaman.
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya komunikasi kepada penumpang saat prosedur keamanan berlangsung. Penjelasan yang memadai dapat membantu mengurangi kebingungan tanpa menghambat pekerjaan petugas di lapangan.