Aktivitas rutin di balik layar kebun binatang tidak selalu berjalan tanpa risiko. Hal itu terjadi ketika penjaga Singapore Zoo digigit tapir saat berusaha menggiring seekor satwa kembali ke kandangnya pada Rabu (26/8/2026). Insiden tersebut membuat penjaga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Peristiwa berlangsung di area tertutup yang tidak dapat diakses pengunjung. Saat menjalankan tugasnya, penjaga sedang mengarahkan seekor tapir menuju kandang. Seorang penjaga lain yang berada di sekitar lokasi kemudian segera memberikan bantuan setelah kejadian.
Tapir tersebut akhirnya berhasil diamankan dan dikembalikan ke kandangnya. Sementara itu, korban dibawa untuk memperoleh penanganan medis.
Kondisi Penjaga Masih Dipantau
Dikutip dari The Straits Times, Mandai Wildlife Group menyampaikan bahwa penjaga yang terluka masih menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisinya disebut dalam tahap pemulihan dan terus mendapatkan pengawasan dari tim medis.
Pihak pengelola juga mengatakan mereka tetap berkomunikasi dengan korban serta keluarganya untuk memberikan dukungan selama proses pemulihan.
Tapir yang Terlibat Berusia 23 Tahun
Satwa yang terlibat dalam kejadian tersebut merupakan tapir betina berusia 23 tahun. Hewan itu diketahui lahir dan tumbuh di bawah perawatan Mandai Wildlife Group.
Selama hidupnya, tapir tersebut dirawat oleh para penjaga, termasuk ketika menjalani masa kehamilan hingga melahirkan anak. Kedekatan antara satwa dan pengasuhnya pun telah terbentuk dalam waktu yang cukup panjang.
Namun, hubungan yang sudah terjalin tidak berarti risiko interaksi dengan satwa liar sepenuhnya hilang. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa perilaku hewan dapat berubah secara tidak terduga dalam situasi tertentu.
Tapir Dikenal sebagai Satwa Pemalu
Mandai Wildlife Group menjelaskan bahwa tapir pada umumnya merupakan hewan yang cenderung pemalu dan tidak suka berkonfrontasi. Karena karakter tersebut, insiden yang melibatkan serangan terhadap penjaga tergolong jarang terjadi.
Meski begitu, pengelola tetap memandang keselamatan manusia dan satwa sebagai hal utama. Setelah kejadian, tapir tersebut tetap berada dalam perawatan tim terkait.
Baca Juga Artikel:
Slot Mudah Maxwin: Cara Memilih Game dan Cek Fiturnya
Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas
Kasus penjaga Singapore Zoo digigit tapir juga mendorong pengelola melakukan evaluasi terhadap prosedur operasional. Mandai Wildlife Group kini menyelidiki penyebab kejadian untuk mengetahui apakah ada faktor tertentu yang memicu perilaku tidak terduga dari satwa tersebut.
Peninjauan prosedur dilakukan untuk melihat apakah diperlukan langkah tambahan guna meningkatkan keselamatan para penjaga sekaligus memastikan kesejahteraan hewan.
Langkah tersebut penting karena pekerjaan pengasuh satwa memiliki tingkat risiko tersendiri. Bahkan hewan yang sudah lama berada dalam perawatan manusia tetap memiliki naluri alami yang harus dihormati.
Mengenal Tapir Malaya
Tapir malaya merupakan satu-satunya spesies tapir yang berasal dari kawasan Asia. Satwa dengan pola warna hitam-putih khas ini menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidupnya di alam.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), tapir malaya termasuk kategori terancam punah dan menghadapi risiko tinggi mengalami kepunahan di habitat alaminya.
Karena itu, perawatan tapir di lembaga konservasi seperti kebun binatang tidak hanya berkaitan dengan keamanan pengunjung dan penjaga, tetapi juga mencakup upaya menjaga kesehatan serta keberlangsungan hidup satwa.
Evaluasi Setelah Insiden
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan di lingkungan satwa liar membutuhkan kewaspadaan tinggi. Rutinitas yang dilakukan berulang kali tetap dapat menghadirkan situasi yang tidak terduga.
Mandai Wildlife Group akan melanjutkan penyelidikan dan mengevaluasi prosedur yang berlaku. Hasil evaluasi diharapkan dapat membantu memperkuat sistem keselamatan bagi para penjaga sekaligus menjaga kondisi satwa yang berada dalam perawatan.
Bagi pengelola kebun binatang, keseimbangan antara keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa menjadi bagian penting dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Insiden ini sekaligus mengingatkan bahwa kedekatan dengan hewan liar tetap membutuhkan kehati-hatian, meskipun satwa tersebut telah lama dirawat oleh manusia.