Perbincangan mengenai Kebun Binatang Surabaya kembali mencuat setelah beredarnya foto harimau Sumatera bertubuh kurus di media sosial. Foto tersebut muncul bersamaan dengan proses hukum dugaan korupsi dana operasional yang menjerat mantan Direktur Utama KBS periode 2016–2024. Akibatnya, banyak masyarakat mempertanyakan kondisi satwa yang saat ini berada di kawasan konservasi tersebut.
Namun, pengelola menegaskan bahwa sebagian besar foto yang beredar merupakan dokumentasi lama dan tidak mencerminkan kondisi terkini. Oleh karena itu, pihak KBS mengajak masyarakat untuk melihat informasi berdasarkan fakta terbaru agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Klarifikasi Kebun Binatang Surabaya Mengenai Foto yang Beredar
Pihak pengelola menjelaskan bahwa foto-foto satwa kurus yang ramai dibagikan berasal dari periode sebelum pengelolaan berada di bawah Perusahaan Umum Daerah (Perumda). Kondisi tersebut tidak menggambarkan situasi yang terjadi saat ini.
Selain itu, manajemen menegaskan bahwa seluruh satwa kini menjalani pemantauan kesehatan secara rutin. Setiap perubahan perilaku maupun kondisi fisik langsung mendapatkan perhatian dari tim medis dan perawat satwa.
Foto Lama Kembali Menjadi Sorotan
Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS, Nurika Widyasanti, menyampaikan bahwa beberapa foto yang viral memperlihatkan satwa seperti Melani, Bety, Beno, dan Dumbo yang berasal dari dokumentasi bertahun-tahun lalu.
Karena itu, publik diminta tidak langsung mengaitkan foto-foto tersebut dengan kondisi kebun binatang saat ini. Menurut pengelola, koleksi satwa yang ada sekarang mendapatkan perawatan secara berkelanjutan sesuai standar konservasi.
Perawatan Satwa Dilakukan Setiap Hari
Merawat satwa liar tidak hanya sebatas memberi makan. Tim keeper juga mengamati kondisi tubuh, perilaku, hingga pola aktivitas setiap individu agar kesehatannya tetap terjaga.
Selain itu, dokter hewan dan ahli nutrisi ikut menentukan kebutuhan pakan berdasarkan usia, berat badan, jenis satwa, serta tingkat aktivitasnya. Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan kondisi fisik setiap hewan.
Pola Makan Disesuaikan dengan Habitat Alami
Keeper harimau Sumatera menjelaskan bahwa pola pemberian pakan tidak selalu dilakukan setiap hari. Metode tersebut mengikuti kebiasaan harimau di alam liar yang tidak selalu memperoleh mangsa setiap waktu.
Misalnya, harimau betina bernama Rengganis menjalani satu hari tanpa makan setiap pekan. Sementara itu, harimau jantan Wira memiliki pola makan tiga hari berturut-turut sebelum memasuki dua hari tanpa pakan dengan porsi yang telah diatur.
Pemantauan Kesehatan Berlangsung Secara Berkala
Pengawasan kesehatan menjadi bagian penting dalam pengelolaan satwa di kawasan konservasi. Setiap keeper mencatat perubahan perilaku sekecil apa pun agar tim medis dapat segera melakukan pemeriksaan.
Selain itu, pemeriksaan tidak hanya dilakukan ketika satwa sakit. Tim kesehatan juga memberikan vitamin, suplemen kalsium, obat cacing, vaksinasi tahunan, hingga pemeriksaan laboratorium sesuai jadwal.
Baca Juga Artikel:
Game Digital Aman: Cara Memilih Platform Terpercaya
Setiap Perubahan Langsung Dilaporkan
Apabila keeper menemukan perubahan pada nafsu makan, kondisi feses, atau aktivitas harian satwa, laporan segera diteruskan kepada dokter hewan.
Langkah cepat tersebut membantu proses penanganan berlangsung lebih efektif sehingga kesehatan satwa tetap terjaga dalam jangka panjang.
Dugaan Korupsi Tetap Diproses Secara Terpisah
Kasus dugaan penyimpangan dana operasional yang sedang ditangani aparat penegak hukum tetap berjalan sesuai proses penyidikan. Namun, pengelola menegaskan bahwa pelayanan terhadap satwa tidak berhenti selama proses tersebut berlangsung.
Di sisi lain, manajemen memastikan kebutuhan pakan, pemeriksaan kesehatan, hingga pemeliharaan kandang tetap berjalan sesuai prosedur yang berlaku.
Fokus Konservasi Tetap Menjadi Prioritas
Selain memenuhi kebutuhan fisik satwa, pengelola juga menjalankan program enrichment atau pengayaan lingkungan. Program ini bertujuan menjaga kesehatan mental satwa melalui berbagai aktivitas yang menyerupai kondisi habitat alaminya.
Dengan pendekatan tersebut, satwa dapat tetap aktif sekaligus mempertahankan perilaku alaminya selama berada di kawasan konservasi.
Kondisi Satwa Saat Ini
Berdasarkan pemantauan langsung di area Kebun Binatang Surabaya, sejumlah satwa seperti harimau, singa, gajah, orang utan, jerapah, hingga berbagai primata terlihat berada dalam kondisi sehat.
Selain memperoleh pakan dua kali sehari sesuai karakteristik spesies, seluruh satwa juga menjalani pemeriksaan kesehatan berkala. Oleh karena itu, pengelola optimistis kualitas perawatan akan terus meningkat melalui evaluasi yang berkelanjutan.
Ramainya foto harimau kurus kembali memunculkan perhatian publik terhadap Kebun Binatang Surabaya. Meski demikian, pengelola menegaskan bahwa dokumentasi yang beredar merupakan foto lama dan tidak mencerminkan kondisi satwa saat ini.
Ke depan, transparansi informasi serta peningkatan kualitas konservasi diharapkan mampu menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan seluruh satwa memperoleh perawatan terbaik sesuai standar yang berlaku. Ikuti perkembangan informasi dari sumber resmi agar memperoleh berita yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.